Bandung, 3 Januari 2021.

Thanks 2020, welcome 2021.
Masa-masa berat di 2020, semoga bisa berakhir di 2021.

Kali ini serius bahasannya sob.
Buat bahan merenung kita.

INDONESIA,, negara yang kaya akan sumberdaya alam.
disalahsatu portal media online tertulis macam ni..
Bangga!!! RI Bakal Jadi Raja Baterai Mobil Listrik Dunia
W.. O... W.. gw berdecak kagum,,
Ya iyalah,, asal tau aja, berdasarkan data kemenperin

Cadangan nikel Indonesia mencapai 21 juta metrik ton, yang menjadikan Indonesia sebagai pemain utama nikel dunia
Kl gak jadi raja, ya keterlaluan sob. 😂😂

Niat menjadi raja, bukan kaleng-kaleng sob.
Pemerintah pun dengan semangatnya mendukung potensi tersebut dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan

W.. O.. W..
Serius sekali negriku..

Wait,, wait,, wait,, tak baca lagi sob..
Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle)
Heummmm,, kendaraan bermotor listrik.
Kira-kira kita masih ingat gak ya sama si Selo??

Sopo bae itu,,

Selo adalah mobil listrik 100% karya anak bangsa.
Siapa yang buat? namanya Bang Ricky Elson (julukannya putra petir), aseli ranah Minang.
Pak Dahlan Iskan memboyong bang Ricky kembali ke Indonesia untuk mengembangkan mobil listrik pada tahun 2013 (CMIIW, Correct me if I'm wrong).

Kenapa di boyong?
Jadi Bang Ricky dulu menetap di Jepang.
Bahkan sudah jadi Kepala Divisi Penelitian komponen mobil listik di Jepang.
Nasionalisme doi gokhel sob, kembali ke Indonesia buat berkarya di Negeri Sendiri.
Kalo gw? heummm, mungkin perlu berpikir matang-matang.

Kenapa matang-matang om?
Kakek gw dulu ikut berjuang lawan penjajah, eh duid pensiunnya malah di koropsi sama Bedebah (sumber: alm nenek).
Tapi biar lah, kakek bakal selalu jadi pejuang di jiwa gw.

back to laptop gaes..

Singkat punya cerita, mobil garapannya tidak di ACC oleh instansi terkait, tidak layak jalan katanya.
Kecewa? gw yg selalu mengikuti beritanya pastinya kecewa.
Mobil sekeren ini, karya bangsa sendiri, tapi ya bagaimana lagi.
Mungkin mereka lebih paham kenapa mobil ini dinilai "tidak layak".

Sebagai orang awam, kl gak layak? kenapa gak di improve agar jadi layak yak?
Jadi kita bisa bangga, 
Bukan hanya jadi Raja Baterai Listrik, tapi bisa jadi Raja Produsen Mobil Listrik..
Sumber: Merdeka.com (Ricky Elson. ©facebook/Ricky Elson)

Sekarang bang Ricky yang dah pindah ke Indonesia,
Melajutkan pengabdian dengan mendirikan "Lentera Bumi Nusantara".
Namanya Ciheras University, kl disingkat jadi Cihuy
Melanjutkan riset dengan melibatkan para penerus bangsa untuk pemanfaatan EBTKE khususnya Energi Angin.

Ingin sekali setelah pademi ini selesai,
Gw mau kesana, buat belajar bersama,
Sebagai praktisi yang fokus dalam menganalisa dampak terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Angin.

So, Technology acceptable, environmentally sustainable.

Semoga kesampaian
AMIN

Cerita Sikentut
Bekasi, 22 Desember 2020.

Mama, ini karena mama.
Wanita tegar, yang menutup kesedihan dengan tawanya.
Wanita hebat, yang ada dibelakang pencapaian anaknya.
Wanita yang tak pernah lelah mendedikasikan hidup untuk anaknya.

Selalu terngiang ditelinga gw, saat mama bercerita ke temannya.
Gw gak sangka, ini anak bakal kayak gini. 
Semua mata tertuju ke gw, susah membedakan antara malu dan bangga.
Ya, dari kita bertiga, mungking gw yang perilakunya 180 derajat berbeda dari abang gw.
Kl sama mpok gw? beda-beda tipis lah, beda 90 derajat.

Apasih kelakukan willy kecil yang gak buat mama geleng-geleng?
Mulai dari hobi beratem, pulang telat, joki judi kelereng, joki judi manggis, lemparin kereta pas lewat, lindas paku di rel kereta, sampai nyusun papan-papan di rel kereta, trs ditabrak kereta.. 
BUAARRRRRRR.. itu papan beterbangan macam pelem laga.
Keren kisanaaakkkk.

Makanya diatara kita bertiga, willy kecil yang selalu kena tabokan manis mama dengan senjata pamungkasnya 
Hanger plastik plus kalimat mama tuh nyesel kl habis mukulin anak.
Ya kalo nyesel, ya mbok jangan dipukul to 😂😂

Titik balik gw sebagai seorang anak adalah saat SMA.
Selain mencoba berdamai dengan kondisi ekonomi. 
Pelajaran biologi membuka mata gw akan sakitnya proses melahirkan.
Otak gw meringis saat bu atik memutarkan video detik-detik melahirkan
Saat bayi keluar dari lubang yang sekecil itu. OMG gokilll. Pasti sakit, amat sangat sakit. 
Jangankan itu, saat kita sembelit, dan pup kita keras.
Amazingkah rasanya?? melahirkan pasti itu lebih parah
Semenjak kejadian itu, gw mulai angsur-angsur berubah.

Mulai menghargai mama,
Mulai menyayangi mama,
Mulai untuk tidak membuatnya sedih.

Dalam setiap kesempatan sharing menjadi dosen tamu, gw selalu sampaikan
Kebahagiaan mama bukan melihat harta yang diperoleh anak-anaknya. Kebahagiaan mama adalah saat dia bisa ikut bercerita tentang kesuksesan anak-anaknya. 
Apakah kalian tega, melihat mama kalian tertunduk layu, hanya bisa mendengarkan, tidak bercerita tentang apa yang bisa dibanggakan dari kalian?

Saat ini gw telah memiliki jagoan kecil di keluarga.
Melihat proses melahirkan dengan mata kepala sendiri.
Seakan gw flash back  ke masa SMA, saat melihat bayi kecil keluar dari lubang sesempit itu.

Terima kasih bu atik, telah memutarkan video yang telah mengubah hidup ku.
Terima kasih hanger plastik yang telah membuatku disiplin dalam hidup.
Tanpa hanger plastik, mungkin willy kecil tidak bisa membedakan mana yg do dan mana yg don't.

Terima kasih Mama,
Jaso mandeh indak ka tabaleh
Bia babungkah perak jo ameh
(Dipopulerkan oleh Tiar Ramon, source lirik Lagu Minang Lamo)


Selamat hari ibu,
Untuk ibu, ibu dari anak ku, dan ibu-ibu lainnya.

Salam
Cerita Sikentut
Bekasi, 1 December 2020.

Kali ini tulisan gw berawal dari keresahan.
Yap keresahan sebagai generasi minang yang khawatir akan krisis identitas.

Tahun 1990, gw udah di boyong ke Jakarta.
Saat itu masih umur 2 tahun-an.
Ikut merantau merasakan dari dinginnya Gunung Singgalang ke Panasnya Tanah Abang.

Masa kecil gw habiskan di Kampung Betawi.
Budaya Betawi melekat di aliran nadi.
Mulai dari yang namanya Rebana, Palang Pintu, Silat, sampai cara berjudi. 
Logat gw pun bercitarasa Betawi.

Meskipun tinggal di kampung Betawi.
Orang Tua punya cara sendiri dalam menjaga Budaya Minang ada di nadi anaknya.
Saat di dalam rumah, mereka mewajibkan kita bicara basa Minang.
Yang selalu membekas ya diomelin pakai kata 4x4.

Semua yang dipupuk sejak kecil, akan menuai hasil saat dewasa toh.
Alhamdulillah, dari 3 orang anaknya, semua fasih berbahasa Minang.
Mantabh bukan..

Dengan bahasa Minang, gw selalu memiliki kawan di mana bertugas.
Saat kita berada jauh dari kampung halaman, dan bertemu dengan orang baru yang satu bahasa, disitu persaudaraan muncul.
Tapi, hal ini juga yang selalu bikin team gw komplen, karena prinsip gw
Dimana bumi dipijak, disitu kita cari restoran padang
Mau ke ujung timur, utara, selatan, dan penjuru mata anging lainnya.
Gw selalu mencari masakan padang.
Bukan semata untuk mencari rasa, tapi juga saudara. 

Tapi,
Budaya yang di pupuk orang tua gw berbanding terbalik dengan apa yang gw lihat dan dengar.
Opini gw, 
Kenapa orang minang yang tinggal di kampung, malah canggung berbahasa minang? Harusnya kami yang canggung.
Saat gw pulang kampung, beberapa orang lebih memilih berbahasa indonesia daripada berbahasa minang.
Meskipun gw jawab dengan bahasa minang, tetap saja respond nya bahasa indonesia.
Come on broh, anything wrong??.

Kegedekan gw pun semakin bertambah saat mendengarkan radio.
Penyiarnya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat minangnya.

Pernah gw iseng, nanya, kenapa sih lu harus bahasa indonesia di kampung.
Alasan mereka adalah malu, malu dikatakan kampungan.

Kenapa sih harus malu berbahasa Minang?
Bukan kah itu identitas kita?

Kami yang dirantau ingin berbahasa minang,
Namun kenapa yang di kampung malah berbahasa Indonesia?

Kenapa gw getol masalah budaya.
Karena itu citarasa kita.
Saat ini gw bisa 4 bahasa daerah selain minang, betawi, sunda, dan jawa.
Asal tau saja, itu jadi nilai plus saat interview. 😂
"Kamu menguasai berapa bahasa?" gw jawab "6 pak", interviwer tercengang, dengan muka begini bisa banyak bahasa, "really?" "yess pak, Bahasa, Inggris, Minang, Betawi, Sunda dan Jawa". 
Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal meneruskan bahasa ini?
Jangan jadikan diri kita yang antipati dengan budaya lokal
Namun membanggakan budaya interlokal.

Salam 

Cerita SiKentut

Bekasi 27 November 2020

Sebagai lelaki minang, ketika sudah sah menjadi kepala keluarga maka kita akan di anugrahi "Gala" alias gelar.
Gala untuk lelaki yang sudah menikah diawali dengan kata "Sutan".
Pemberian gala, tidak bisa diberikan oleh sembarang orang loh sob.
Hanya Datuk yang bisa meng-Acc pemberian Gala.

Nah, uniknya lagi Gala itu gak bisa dibuat se-enak udel sob.
Gala yang digunakan saat ini merupakan estafet dari pengguna sebelumnya yang telah meninggal.
Selain itu, pemberian Gala juga melihat si penerima, baik profesi atau tatanan di masyarakat.

Okeh, kita lanjut..
Awalnya gw berfikir, mungkin gw adalah satu-satunya orang di keluarga yang bekerja di Bidang Lingkungan.
Sangat susah menjelaskan pekerjaan gw ke keluarga.
Keluarga cuma tau "Kerjaan gw di bidang lingkungan, jagain lingkungan biar gak tercemar." udah itu ajah.
Sampai karikatur keluarga, profesi gw dianalogikan orang duduk di bola dunia. 

Kl mau diperpanjang, begini jadinya:
  • Orangtua cuma tau kl kerjaan gw ke tengah laut, ambil tanah trus pulang.
  • Mertua cuma tau kl kerjaan gw ke tengah laut, ambil aer, trs balik lagi. Pernah doi nanya, "kenapa harus ke tengah laut sih, toh dipinggiran juga sama-sama asin" .
  •  Nah yg lebih sensasional, om gw, dia cuma tau kerjaan gw nyari monyet dan harimau ke tengah hutan. Tapi doi bangga, karena gw dibayar pake USD😂😂. 
Nah, saat diskusi pemberian Gala, akhirnya gw baru tau, ternyata ada leluhur yang kerjaanya sebidang sama gw.
Kayaknya sih bukan konsultan lingkungan,
Gala ini dah lama gak terpakai, dan baru kali ini diteruskan ke gw.
Gala yang diberikan ke gw 
Willy Aulia Sutan Amin Alam.

Kl dipikir-pikir, dalam juga makna ini Gala,
Amin itu artinya dipercaya, Alam itu ya Alam tempat kita berpijak.
Kl disimpulkan ya, bisa jadi orang yang dipercaya jaga alam.

Hal yang tidak terduga sih, pengalaman sebelum gw menikah.
Sejak 2017 hingga 2020 gw terlibat dalam project smelter AMIN.
Teman2 dinas DMPTSP di daerah manggil gw Bapak Amin.

Apakah ini sebuah kebetulan? 
gw g tau jawabannya, Allah yang maha tau.

Dalam pekerjaan gw, gw selalu berpegang pada salah satu ayat di Al-Qur'an yaitu Al-Baqarah ayat 11-12, yang artinya:
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan". (12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Semoga gw bisa megang amanah untuk menjaga esensi dari Gala ini.

Salam
 
Bekasi, 12 November 2020.

Hi gaes,,
Tepat 2 tahun lalu gw nulis Ini Cerita Tentang Papa.
Cerita ini gw tulis tahun 2018, waktu gw masih bujangan, belum merasakan apa rasanya jadi Ayah.
Dan ternyata saat menjadi Ayah, rasanya nano nano, mungkin ini yang dulu dirasakan Papa.

Tulisan ini gw tujukan buat jagoan-jagoan gw yang sudah hadir dalam hidup gw,, Habil dan Maqil.
Dua jagoan, yang tipikalnya bertolak belakang Habil dengan super powernya dan Maqil dengan santuy nya.

Kenapa gw nulis buat kedua jagoan gw.
Karena gw pernah merasa, kenapa gw gak pernah merasakan kasih sayang kakek.
Kenapa temen-temen gw merasakan kasih sayang kakek.
Dan gw gak ingin itu terjadi ke jagoan-jagoan gw, seenggaknya dia tau Inyiaknya.
Seperti mama yang selalu menceritakan kakek ke gw.

Nak, kali ini ayah mau cerita tentang Inyiak.
Seorang laki-laki yang belum pernah menggendong kamu.
Namun ayah yakin, inyiak selalu tersenyum melihat cucunya.
Inyiak itu, lelaki yang sampai akhir hidupnya tidak pernah memarahi apalagi memukul anaknya.
Yap, inyiak itu bermuka Rambo, tapi hatinya Rinto. 
Saat kamu baca tulisan ini, mungkin kamu tidak tau siapa itu Rambo? apapula itu Rinto?

Rambo nama jagoan di film barat, mukanya sangar, kerjanya nembak-nembakin penjahat.
Nah Rinto itu, nama penyanyi Indonesia, Rinto Harahap, lagunya melow mulu, halus bagaikan kapas.

Inyiak kamu juga seperti itu.
Pernah satu ketika Inyiak nyaris dicopet di bus.
Tangan copet sudah masuk ke saku Inyiak, dan "plakkkk,," itu tangan copet di tabok.
Sambil menoleh kecopet, copetnya nge-down liat inyiak, dan turun dari bus.

Inyiak gak pernah mukul ayah, gak pernah ngomelin ayah, meskipun kenakalan ayah diatas rata-rata.
Malah yang ada, saat ayah di omelin umak, inyiak yang nangis.

Serius, Inyiak pernah marah sama ayah?
Gak pernah, marah karena nakalnya Ayah nggak.
Marah karena kaget, pernah, dan itu sekali seumur hidup ayah.
Saat inyiak lagi sholat, terus pas rukuk, pantatnya ayah sundul pake kepala, dan inyiak kamu nyusruk.
Seketika inyiak teriak, dan kita semua kabur terdiam seribu bahasa.  
Inyiak itu sayang sama anak.
Waktu ayah SD, sedang ngetrend yang namanya Celana Mambo.
Semacam celana panjang, ada garis-garisnya.
Ayah liat teman-teman pakai celana mambo, dan ingin punya juga.
Besoknya pas Inyiak pulang dagang, dia beliin celana Mambo.
Celana itu terus-terusan ayah pakai sampai kahirnya kekecilan.
Inyiak itu setia.
Iya setia, serius nak.
Ndak macam ayah, yang masih suka isengin gadis-gadis.

Inyiak tidak, baginya umak ya umak.
Wanita yang dia sayang sampai akhir hayatnya.

Umak sama Inyiak suka berantem yah?
Jangan ditanya, mereka hobi berantem.
Namun inyiak gak pernah ngebantah Umak,
Kl Umak udah marah-marah, inyiak cuma diam, diam, dan diam.
Dia tau Umak kamu, kl marah tar juga reda sendiri.

Sekarang kita cuma punya Umak. 
Wanita kesayangan Inyiak.
Yang harus kita sayang.
Yang harus kita jaga.

Sejauh mana pun kamu melangkah, selalu lihat kebelakang, ada Umak yang menyayangimu.
 


Salam 
Ayah
Bekasi, 14 Oktober 2020

Kredibilitas, apa ituh,,
Seberapa pentingnya buat kamuh?
Mengacu ke kbbi,
Kredibilitas adalah perihal dapat dipercaya
Yaph,,, Kerja di Bidang Jasa Konsultasi bukan perkara mudah.
Mencari dan memupuk kepercayaan merupakah hal yang penting dan susah.
Gw mulai menapakkan kaki dibidang ini sejak tahun 2012, dan hingga saat ini gw mencoba untuk menjaga hal itu gw sebagai konsultan.

Gimana cara nya? 
Ya buat dokumen dengan standar dan regulasi yang berlaku.
Ya belajar untuk update informasi, ikut seminar sana sini demi kasih makan ini otak.
Ya yang penting adalah bisa menjawab pertanyaan klien.

Dahulu kala, gw pernah tergiur dengan adanya pinjam nama buat dokumen.
Siapa yang tidak tergiur, dengan bermodalkan sertifikat kita bisa menghasilkan uang.
Dan ternyata dokumen yang dihasilkan itu jauh dari standar yang di tetapkan.
Alhamdulillah Allah masih sayang sama gw, ada orang-orang yang selalu mengingatkan gw.

Gw masih ingat kejadiannya saat berpapasan dengan si bapak di Gedung KLHK Kebun Nanas,
Beliau menasihati gw yg intinya, 
Kredibilitas dan profesionalitas itu berharga. Kalau kamu mau fokus di bidang ini, harus menjaga itu mu.
Semenjak saat itu, hal ini selalu gw terapkan dalam menyusun dokumen.

Setiap orang punya selera sendiri dalam menyusun dokumen.
Begitu juga gw
Dokumen yang kita susun gak bagus-bagus amat, 
mungkin masih jauh dari kata sempurna.
Akan tetapi kita selalu berpegang dengan regulasi yang berlaku.

wait, wait, wait, kita?? kenapa bukan gw?? 
karena dokumen itu gak dibangun oleh satu kepala, tapi beberapa kepala.

okeh lanjut,, 

Mungkin ada yang kesal saat dokumen gw obrak abrik, 
Ngedumel dalam hati tapi yg perlu kita concern adalah
Poin yang harus dipegang adalah gw gak hanya menjaga nama baik sendiri, tapi juga menjaga nama baik perusahaan.
Bekerja diperusahaan mungkin ada batasan waktu,
Kita bisa kapan saja lepas atau dilepaskan.
Akan tetapi, kredibilitas kita tidak bisa dilepaskan.
Saat hal itu tercoreng, akan sudah kembali untuk mendapatkan kepercayaan.

salam
Cerita Sikentut

Bekasi, 21 April 2020

Genap sudah 6 minggu saya mendekam di rumah sebagai WFHers.
Menjalani kebijakan WFH, demi keselamatan bersama ditengah pademi Covid-19.

Mengeluh? Tentu tidak, dinikmati saja.
Hikmahnya, bisa bertatap muka dengan istri 16 jam sehari.
Biasanya hanya 5 jam sehari.
2 Jam pagi, 3 jam malam hari.
Waktu tidur gak masuk hitungan.

Masa pademi Covid-19 melahirkan banyak cerita.
Terutama cerita perjuangan bertahan hidup ditengah ketidakpastian.

Tidak ada yang bisa aman saat ini. 

Pengusaha? mereka harus memutar otak agar usaha jalan terus dan gaji karyawan terbayarkan.
Karyawan? Harus bersiap diri, menyiapkan rencana cadangan, bisa saja hari ini kita masih kerja, tapi beberapa bulan ke depan kita gak tau nasib kita.

Kita tidak tau sampai kapan Covid-19 ini berlangsung. 
Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan bersiap terhadap kondisi apapun yang akan terjadi.

Okeh, 

Cerita menarik dari era Covid-19 adalah munculnya para pedagang musiman.
Pedagang musiman yang berjualan masker, hand sanitizer, vitamin dan alat kesehatan lainnya.

Pada awalnya gw sinis banget dengan orang-orang ini.
Dalem otak gw kapitalis banget,mereka mencari Cuan ditengah kesulitan orang lain
Disinilah kesalahan gw, don't judge a book by its cover.
Setelah gw pahami, mereka jadi pedagang musiman demi menyambung hidup.
Mencari cuan sewajarnya karena mereka sadar. 

Ada kawan yang mulanya pengusaha bidang F&B.
Ujug-ujug jadi pedagang masker medis dan hand sanitizer. 
Harga masker yang meroket, bikin harganya rasa kacang goreng.
Berapa pun, pasti dibeli sama orang.
Doi terpaksa harus banting stir, karena usaha F&B nya drop. 
Terpaksa merumahkan beberapa karyawan dan demi dapur tetap ngebul.

Ada kawan yang biasanya driver taksi.
Ujug-ujug jadi pedagang masker medis dan vitamin. 
Semenjak Covid-19 orderan taksi menurun, penumpang sepi.
Bengong dirumah, kepala pusing, ubah profesi, jadi solusi.

Ada kawan yang punya usaha Rental mobil.
Ujug-ujug jadi usaha cemilan.
Semenjak Covid-19, orderan rentalan pada cancel.
Mobil nongkrong di garasi, sedangkan cicilan tetap harus dilunasi.

Pada masa ini, bukan saatnya kita men-judge usaha seseorang.
Karena upaya yang mereka lakukan semata-mata untuk menyambung hidup.

Terlepas dari itu, ada juga oknum-oknum yang emang sengaja menimbun dan mengambil kesempatan bermain di Pademi Covid-19 ini.
Mempermainkan harga demi mendapatkan cuan sebesar-besarnya.

Sudahlah, karena Cuan bukan sekedar Cuan. Cuan yang kita dapatkan harus berkah buat semua, karena ujung-ujungnya buat kasih makan anak bini.

Semoga Pademi Covid-19 ini cepat berlalu.
Pendapat pribadi gw, bahwa Allah sedang menguji kita.
Apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik atau malah sebaliknya.
Saatnya muasabah, saatnya introspeksi diri.

Salam
Cerita Sikentut.







Jakarta, 20 November 2019

Pas satu bulan lalu, 20 Oktober 2019 Pak de dilantik jadi presiden. 

Pada tanggal yang bersamaan saya berniat menghadiri undangan beliau.
Namun apa daya, saya datang terlalu pagi ke gedung parlemen sehingga disuruh pulang lagi sama pak penjaga gerbang.
Jadilah pelantikan pak de hanya bisa dilihat lewat kotak segi empat di tembok hotel.

Alhamdulillah pelantikan berjalan lancar, nomer satu dan dua sekarang menjadi nomer tiga yaitu "Persatuan Indonesia".

Prosesi selesai satu persatu, termasuk pidato kenegaraan pak de sebagai presiden periode 2019 - 2024. 

Ada yang menarik dari pidato pelantikan pak de, yaitu menerapkan simplifikasi perizinan dengan menghapus IMB  bahkan Izin AMDAL. Beberapa saat kemudian pak Mentri ATR membuat publik tercengang dengan statment "akan menghapuskan IMB dan AMDAL, karena menghambat investasi". Tentu penghapusan tersebut jika daerah sudah punya Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Woww,, gw tercekak,, AMDAL dihapuskan?? periuk nasii tuh,, bisa berontak kampung tengah. 

Teman-teman konsultan pun pada teriak serta gelisah. 
Bahkan ada beberapa orang yang japri saya mengkonfirmasi hal tersebut.
Berasa orang penting, padahal saya hanya remah-remah kripik singkong.

Okeh.. tarik napas sejenak..
Gw cuma bisa ketawa denger japri-japrian kawan dan ingin ku teriak
"Makanya dibaca itu barang... jangan kaleng-kaleng "
Tapi tak urungkan demi sedikit menjaga hati..

Dari latar belakang tersebut, gw ingin mencurahkan sedikit hal yang pernah gw baca. Sebelum gw lanjutkan tulisan ini, gw cuma bisa bilang gw bukan orang yang paham segalanya. Namun semua yg gw tuliskan ini berdasarkan apa yg gw pelajari dan pahami. 

Pertama, AMDAL bukan di Hapuskan, tapi dikecualikan. Hal ini bisa terjadi jika daerah sudah memiliki RDTR. Meskipun dikecualikan, si perusahaan tetep harus bikin UKL-UPL. Hal tersebut sudah ada sejak tahun 2012, tepatnya di PP 27/2012, pasal 13 ayat 1 poin b
Usaha dan/atau Kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup dikecualikan dari kewajiban menyusun Amdal apabila lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatannya berada pada kabupaten/kota yang telah memiliki rencana detil tata ruang kabupaten/kota dan/atau rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten/kota.
kedua, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengeluarkan peraturan pendukung di Permen LHK NO 24 tahun 2018 tentang Pengecualian Kewajiban Menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan untuk Usaha dan Atau Kegiatan yang berlokasi di Kab atau kota yg sudah punya RDTR. Diperaturan tersebut sudah ada aturan mainnya. sok dibaca.

Saran gw, mungkin pak menteri ATR atau pejabat-pejabat negri +62, kudu pilih-pilih Tenaga Ahli yg bener biar gak bikin rame. Hal ini dikarenakan kata"dihapuskan" maknanya akan lebih keras dibandingkan "dikecualikan". Selain itu, AMDAL bukan ranah kementerian terkait, AMDAL ranahnya KLHK. Ibaratnya, masa iya, punya istri malah ngatur istri orang lain, gak cocok toh. Selain itu, gak ada yg namanya izin AMDAL adanya izin lingkungan (makasih mas Dimas, niat mau meluruskan izin AMDAL, jd kelupaan ^.^v).

Selain itu, buat temen-temen yg seprofesi sama gw, ya mbok dibaca dulu. Ini salah satu pembuktian dari tulisan "Moneyisasi Sertifikat Keahlian". Marilah kita untuk tidak jadi kaleng-kaleng.

Dan hal yang paling gw gak setuju dengan yang diatas sana adalah 
"AMDAL menghambat investasi.."
mungkin dari gw, gw berkaca atas keahlian gw dibidang ini, sebuah cambuk untuk terus mengeksporasi ilmu gw agar semua berjalan efektif efisien.

namun, AMDAL tidak melibatkan 1 pihak, tapi banyak pihak, Ada Pemerintah sebagai pengambil keputusan, ada pengusaha sebagai pemrakarsa kegiatan, dan ada masyarakat sebagai penerima dampak.

Bagi gw, AMDAL ibarat buku nikah. yang kudu dipahamin dan diimplementasikan.

Semua dampak yang dihasilkan harus dikelola, sesuai prinsipnya dengan pemilihan teknologi, minimisasi, dan kompensasi. Semua dampak yang kita hasilkan, ttp harus dipantau. sehingga kita bisa menjaga lingkungan untuk kehidupan di masa depan.

salam
cerita sikentut
Jakarta, 2 September 2019.

Pfuihh,, nasib komuters.
Pergi pas pilem hidayah mulai.
Pulang pas pilem Cinta karena Cinta habis.
Kelewat terus dah ah..

Macetnya ibu kota, udah makanan sehari-hari.
Pinggang cekod-cekod sudah biasa. 
Posisi paling enak saat ini adalah ngelurusin badan. 
Arghhhhh,,, enak nyooo..

Rada berat kali ini bahasan.
Cuma ingin aja disampaikan.
Berawal dari keresahan.
Demi Nusa, Bangsa, dan Demi Pekerjaan.
#lebaymodeon

Awal mula-nya berawal dengan semangat perbaikan kualitas SDM maka dibentuklah Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Keahlian ditandai dengan sertifikat berlambang Garuda.
Agar diakui secara nasional maupun internasional.

Ada Garuda di Sertifikatku
Sebenarnya sertifikasi sudah ada sejak lama.
Namun di selenggarakan oleh masing-masing kementrian.
Misalnya dibidang AMDAL dibawah pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
KLH menunjuk 1 lembaga untuk menilai kapabilitas profesi seseorang.
Untuk lulus ujian, perjuangannya bukan main.

Okeh next, per 2016 dikarenakan sentralisasi sertifikasi profesi maka semua sertifikasi diadakan oleh BNSP.
Saat ini banyak sekali lembaga yang memenuhi syarat dari BNSP untuk melakukan ujian sertifikasi.
Ratusan orang yang bersertifikasi dapat dicetak tiap bulan.
Mungkin niatnya baik, bagus, dan mantul.Mungkin bagus untuk capaian yang akan dilaporkan ke pak de.
Tapi kok, sekarang jadi kayak gini ya.
Tapi kok, maknanya mulai bergeser, jadi muncul paradigma di lembaga ini aja, dijamin lulus.
Asal administrasi beres, cin cay.

Awal mula hal ini masih gw anggap remeh.
Namun mulai berasa saat menanyakan "apa itu dampak? Apa itu batas wilayah studi? Apa itu batas waktu kajian?? dkk" kepada seorang yg tersertifikasi Anggota. 
Bisa jawab? Bisa lah masa anggota kagak bisa.
Dengan semangatnya kawan ini menyampaikan percis macam hafalan di peraturan.
Tergelitik, karena gw bukan tipikal manusia penghapal, tapi kudu ngerti."Konsepnya bagaimana? Misal dari rencana kegiatan sampai ujungnya. Coba donk kasih contoh simple aja gak usah ribet-ribet".
Kawan satu ini diam, bibir bergetar, tapi gak ada satu patah kata yang keluar.
Okeh, mungkin dia gugup.
Gw pernah di posisi itu.
Cooling down, sedikit ice breaking.

Setelah nyaman, kembali lagi ke masalah cara nyusun amdal..
Masih sama..
Masih diam..
Masih tak ada kata keluar..

Gw garuk-garuk kepala..
"Jujur ya, dah pernah nyusun?"
"Belum"
"Lah, Ini pengalaman banyak?"
"Iya" dan ternyata hanya pajang nama.
Kok iso.Kok LULUS. 
Gw bukan orang yang sudah paham jeroan AMDAL. Bukan.
Gw bukan orang yang mengerti isi AMDAL. Bukan
Tapi minimal kita paham konsepnya.
Dokumen  mah gampang dibuat. Cuma yang buat paham tidak dengan apa yang dibuatnya. itu pertanyaanya.
Jenjang profesi, gw mulai dari bawah.
Dari Nol, dari gak tau apa-apa.
Dididik sama senior yang kena kutukan 10 tahunan, pak Jay.
Sejak 2012, dan baru lulus ujian anggota 2015.

Udah cukup? Belum, namanya juga proses.
Masih lanjut ditempa sama (alm) pak Arif.
Di poles sama pak Yahya, pak Dadang, pak Rafeldy, Pak Taufik Afif dsb.
FAI, Pertalindo dll yang gak bisa disebutkan satu persatu.

Alhamdulillah ilmu nambah sedikit-sedikit.
2017 naik pangkat jadi ketua.

Gw sadar semua butuh proses.
Namun gw masih penasaran dengan strateginya.
Apakah berkecimpung dulu, faham, ngerti baru bayar sertifikasi.
Atau
Bayar sertifikasi dulu, berkecimpung, faham, baru ngerti?

Ibarat SIM.
Semua orang bisa punya SIM.
Tinggal DORRR.
SIM jadi, tanpa faham rambu-rambu dan etika berkendara.
Jadi lah macam saat ini.

Yang,, yang,, bangun,, udah subuh, yuk sholat dulu.
Oh ternyata gw mimpi.

Semoga mimpi gw gak jadi kenyataan.

Cerita Sikentut
Salam

Disclaimer: Tulisan ini adalah karangan fiksi, jika ada kesamaan dengan keadaan nyata maka diluar tanggung jawab penulis XD

Jakarta, 22 Agustus 2019.

Masih terngiang-ngiang pak Budi dengan baju putih dan celana kain hitam-nya menyerukan. 

"Siapa yang mau lulus tepat waktu??" dan kami semua angkat tangan.. "kami pak.."


Semangat '45 macam pejuang mau perang.
Namun kenyataannya, Satu smester dua smester semangat itu melempem macam kerupuk kena angin. 
Ya, namanya juga MAHA-siswa.

April, 2016.
Cita-cita untuk menempuh jenjang Magister akhirnya terbuka.
Uang ada, cuma tantangannya kuliah sambil kerja.
Abang bisa, Kakak bisa (bisa gak lulus-lulus), masa gw gak bisa??. 
Tinggal pilih mau macam Abang apa kakak.

Bismillahirrahmanirrahim.
Gw bisa.
Proses administrasi ini itu terselesaikan.
Surat pernyataan dari orang tua gw jadikan modal semangat.
Kenapa? Karena itu surat yang di tanda tangani papa.
Meskipun tangannya gemetar, namun gw ingin papa yang tanda tangan bukan yang lain.
Gw ingin papa dan mama duduk manis di Balairung liat anaknya diwisuda.

Kuliah di mulai dan kapal pun mulai oleng kapten.
Dikira gampang, ternyata dihantam sana sini.
Pantesan kakak gw teler.
Antara pendidikan atau pekerjaan. Antara pembimbing atau pimpinan. Antara thesis atau periuk nasi.
Terlalu mengutamakan pekerjaan dari pada target awal.
Dititik inilah, gw mulai melakukan kesalahan.
Terlalu mengulur-ulur waktu.
Dan pada akhirnya gw masuk dalam jajaran bergengsi yaitu
Mahasiswa sisa perang dunia
Saat yang lain seminar proposal Smester 3, gw Smester 4.
Saat yang lain lulus Smester 4, gw masih nongkrong diperpus bingung mau apah.

Selangkah dua langkah, akhirnya maju juga.
Saat dapat jadwal seminar proposal Maret 2018.
Saat itu, 5 hari sebelum seminar proposal papa berpulang kepangkuan Allah.
Drop, Hancur sudah cita-cita gw.
Gagal sudah membuktikan bahwa gw bisa.
Semangatpun hilang, yang tinggal penyesalan.

Andai gw bisa macam bang Fahmi.
Dibalik kesibukan yang luar biasa.
Dia bisa lulus lebih cepat dari target.
Andai gw patuh apa kata pak Budi, pak Prof Haryoto, dan pak Suyud.
Andaikan gw bisa, maka papa akan ada di Balairung dengan senyum nya.

Penyesalan tinggal penyesalan.
Apa yang di mulai, itu yang harus diselesaikan.
Penelitian selesai dan saatnya mempertanggungjawabkan.
Allah maha berkehendak dan punya skenario hidup.
Mari menjalankan semua yang sudah direncanakan.

Selesai? Tidak.
Gw masih disayang, masih dikasi test tambahan lagi.
Perencanaan berantakan, disaat yang sama waktu yang sama, semua test bersatu padu.

Pekerjaan yang dimajukan deadlinenya.
Pertesisan yang dimajukan sidangnya.
dan Pernikahan yang didepan mata.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5-6).: Karena bersama kesulitan ada jalan keluar, bersama kesulitan ada jalan keluar:.

Alhamdulillah, Juni 2019 Pekerjaan akhirnya berhasil diselesaikan.
Alhamdulillah,  27 Juni 2019 Penelitian akhirnya berhasil disidangkan.
Alhamdulillah, 29 Juni 2019 Pernikahan akhirnya berhasil disahkan.

Semua ini berkat bantuan Allah, Orang tua, Pembimbing, Dosen dan team Greencorp yang tangguh.



Sabtu, 31 Agustus 2019.

Acara itu akan dilaksanakan.
Meskipun papa sudah tidak bersama kami.
Tapi gw percaya dia akan selalu ada bersama kami.


Photo by: Hape Mahal mbak Yulia

MIL 1001, gelar ini ku persembahkan untuk mu, Papa.




Salam
Cerita Sikentut

Jakarta, 1 Agustus 2019

Aduh.. butuh kontraktor nih..
Oh iyak.. telpon si Mamat aja ah..
doi kan temen gw kuliah..
biar bisa murah..

👦Bos.. kita butuh supplai bata merah totalnya 20.000..
🧔Coba minta penawaran ke agung..
Dia temen sekampung gw..
Biar dapat harga yang murah..

Pernah di posisi gth?
Dalam berusaha, kl temen identik dengan harga yang murah?

Hemat gw ini persepsi yang cukup ngaco di dunia bisnis +62..
Kl begitu ceritanya, mendingan gak usah temenan kita.. 🤣 🤣 🤣

Bagi gw.. esensi berkolaborasi dengan teman itu adalah.. Totalitas..
Karena dengan teman itu, kita tau kualitas kerjanya..
Hal yang kita dapatkan sesuai dengan yang diharapkan bahkan lebih..
Gak mungkin juga teman bakal kerja asal2an..
Dia paham, kl kerja asal-asalan, taruhannya adalah pertemanan..

Bagi gw.. esensi berkolaborasi dengan teman itu adalah integritas..
Teman bukan sembarang teman..
Teman yang berintegritas akan memberikan kenyamanan dalam berbisnis..
No was was..
Bikin bisa tidur dengan tenang..

Bagi gw.. esensi berkolaborasi dengan teman itu adalah saling mengerti..
Pernah invoice mandeg?
Sedangkan pembayaran sudah jatuh tempo..
Dengan teman lah kita bernegosiasi..

Coba bayangkan jika sudah nawar sadis..
Pembayaran mandeg pula..
Alamakjang..

Apakah iya kita menawar produk teman kita semurah mungkin demi kita mendapatkan untung sebesar mungkin?
Itu bukan bisnis ketimuran..
Bisnis ketimuran itu berbagi rezeki..
Bukan memotong rezeki..

Salam kentut..
Salam pertemanan..

Cerita si Kentut

Bekasi, 28 Juli 2019

Lahir 31 tahun yang lalu..
Dikala azan subuh berkumandang..
Disebuah kota kecil, bukit tinggi..

Anak ke 3 dari keluarga kecil..
Dengan satu orang Abang dan satu orang kakak perempuan..


Kata mama Willy kecil anak yg unik..
Kelakuannya berbeda 180° dengan kedua saudaranya..
Selalu mencari hal yang berbeda..
dan anti di banding-bandingkan..

Willy kecil sudah penasaran dengan uang..
Waktu SD.. Ia mulai dagang Bakpau, pastel, tukang ojek payung, dan tukang parkir..
Bagi kebanyakan orang kita harus jaga gengsi..
Bagi nya? Asal dapat uang ya kenapa nggak..
Disaat anak-anak lain ngabisin uang orng tuanya..
Willy kecil dah bisa ngabisin uang orang tua lain buat beli dagangannya.. 

Willy kecil itu temperamental..
Gampang marah.. Gampang emosi.. 
Penakut tidak ada dlm kamus hidup..
Prestasi nya jangan ditanya, kelas 3 SD sudah berkelahi dgn anak kelas 6 SD saat kakak perempuannya diganggu..
Prestasi makin meningkat saat kelas 1 SMP
Botol minuman nyaris melayang di tubuh seorang dewasa, saat ayahnya di ganggu..
Sungguh tak patut ditiru.. xD

Willy kecil selalu mengekspresikan sifatnya..
Baginya hal yang menantang itu seru..
Baru belajar taekwondo, besoknya sudah tes berkelahi..
Nimpukin kereta, lihat kayu-kayu bertebangan saat di tabrak kereta itu kereeennn..

Willy kecil itu kreatif..
Tembok yang bersih, bisa jadi papan lukisan..
Jam antik yang awalnya rusak, ia perbaiki, bisa jadi makin rusak..
Kardus rokok bisa jadi mobil-mobilan..
Keren kan..

Willy kecil itu tidak mau dibandingkan..
Saat Abang dan kakak selalu bersama mulain dari SD hingga kuliah..
Saat Abang dan kakak memilih jalur ekonomi..
Willy kecil tidak..
Willy kecil memilih masuk SMA..
Willy kecil memilih kuliah biologi..
Resikonya jangan ditanya, mulai dari mengerjakan tugas sendiri hingga hidup jauh dari keluarga..

Willy kecil sudah tak kecil lagi..
Keluarga telah membesarkan dan mendidik nya dengan baik hingga jadi seperti saat ini..
Bagi mereka mendidik anak seperti mengemudikan layangan..
Anaknya lurus, ya di ulur..
Anaknya singit, ya di tarik..

Kini Willy kecil sudah menjadi suami..
Tepat 1 bulan yang lalu, Willy kecil mengikrarkan diri untuk memiliki wanitanya..

Jika Allah memberikan kepercayaan, Willy kecil akan mendidik Willy yang lebih kecil untuk menjadi lebih baik..
Seperti didikan papa dalam diamnya..
Seperti didikan mama dalam hangat pelukannya..
Seperti didikan Abang dalam putar otaknya..
Seperti didikan kakak dalam sayangnya..

Aminn..

Salam 
Cerita Sikentut
SCBD, 18 Juli 2019

Pernah dengar lagu bondan prakoso feat 2 black yg judul "Hidup Berawal dari Mimpi'?.
Kl udah pernah dengar ya sukur,, 
Kl belum mungkin ini sedikit potongan liriknya yg menurut gw keren..
Tinggalkanlah gengsi, 
Hidup berawal dari mimpi,
Gantungkan yang tinggi, 
Agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli 'tuk ironi tragedi 
Senang bahagia, hingga kelak kau mati
ini lagu full nya


Siapa sih yang gak suka mimpi?
Mimpi bagi gw adalah sebuah impian yg akan terwujud,,

Gw pernah bermimpi, 
Bahwa sebelum gw menyelesaikan S1, 
Gw harus bisa menginjakkan kaki di lima pulau di Indonesia. 
Entah kebetulan entah tidak, Alhamdulillah hal itu terwujud.

Selesai mimpi itu terwujud, gw bermimpi lagi, 
Bahwa sebelum gw lulus S2, gw harus bisa menginjakkan kaki gw di 4 negara.
Alhamdullillah mimpi yang ini berhasil lagi, kaki gw menapak di 4 negara.
Aneh tapi nyata,, percaya atau tidak,, ini jadi nyata..

Gak ada yang salah dengan bermimpi,,
Saat kita bermimpi,, 
Secara otomatis bakal merasuk di mindset dan bakal menjadi target kita,,

Bermimpi gak hanya bermimpi,, 
Tapi juga diiringi dengan kerja dan usaha,,

Selamat bermimpi,,
Semoga menjadi nyata,,

Mimpi gw selanjutnya,
Andai Allah memberikan gw kesempatan,,Gw ingin melajutkan ke jenjang S3 dan menginjakkan kaki di 3 Benua,

Salam Semangat,
Cerita Sikentut.